Be My Teacher, Please! [Chapter 1]

BMT - KyuRa

Chapter 1

 

Kim’s Mansion, Gangnam-gu, Seoul     

     

“Eommaaaaaaaa….. di mana sepatuku?” teriak seorang yeoja dari kamarnya. “Eommaaa…. kaus kakiku, di mana?” teriaknya lagi, sambil memakai bajunya dengan tergesa-gesa.

“Bukankah di bawah bantalmu itu?”

Ibunya berdiri di depan pintu kamar dengan tangan terlipat di dada. Agak jengkel, karena setiap pagi pertanyaan anak gadisnya itu selalu sama. Wanita paruh baya itu mendesah, lalu mengelilingi arah pandangnya ke seluruh sudut kamar—yang didominasi dengan biru langit. Dia menggeleng malas. Kamar itu bukan seperti kamar anak gadis pada umumnya, melainkan bisa disebut kandang sapi perahan kakeknya yang ada di Busan. Min-Hwa mendecak penuh keprihatinan saat melihat anaknya sedang jungkir balik mencari kaus kaki—yang kalau tidak salah, belum digantinya selama 4 hari.

“Ah, jinjja? Aku lupa.”

Dengan tampang polos, gadis itu menyengir ke arah Min-Hwa, ibu yang paling sabar di dunia versi anak gadis itu. Kemudian, dia mengangkat bantal dan mengambil sepasang kaus kaki beda warna dengan panjang selutut. “Kenapa kau di sini? Sejak kapan aku perintahkan kau untuk bersembunyi, huh?”

“Apa kau akan terus seperti ini, hum? Tingkahmu, Na-ya. Kau anak perempuan, ‘kan?” Min-Hwa mendekatinya—yang tengah memakai kaus kaki sambil berdiri. Namun, gadis itu hanya tersenyum mendengarnya. Bukan tidak mau menjawab, tapi sama saja, setiap hari pertanyaan ibunya itu selalu sama. Jadi, kalau dipikit-pikir, demi penghematan kata, dia hanya memberi sunggingan termanis yang dia punya.

Setelah selesai, dia mengambil tas ransel hitam yang tergeletak tak berharga di bawah kolong tempat tidurnya.

“Aku pergi, Eomma. Bye!” Gadis itu berlalu dari kamarnya, setelah mencium mesra pipi Min-Hwa. “Siapkan makan siang yang enak untukku,” teriaknya sambil berlari, ketika dia menuruni tangga.

Kim Nara, anak bungsu dari dua bersaudara. Setiap hari, paginya selalu terburu-buru. Bangun kesiangan, lupa mengerjakan tugas, dan terkadang gadis itu tidak mandi saat pergi ke kampus. Seribu ocehan panjang demi kebaikannya, hanya berlaku sampai di telinga kanannya, tidak akan melekat di otaknya. Hari ini dinasihati, maka besok terlupakan.

 

‘Cinta tak datang begitu saja,

Cinta hadir pada mereka yang mempercayainya,

Cinta terbentuk dari sebuah pertemuan!’

 

 

Kyung Hee University, Dongdaemun, Seoul

Business Management FacultyMathematic Economy Class

 

“Gawat, aku terlambat! Kali ini habislah kau, Kim Nara. Si Tua itu pasti sudah berceloteh di dalam sana,” gerutunya sambil terus berlari. Mengumpati si Tua yang suka mengatur di saat sedang berlari adalah suatu keharusan baginya. Tak peduli, kalau saat seperti itu lebih baik diam, kalau tidak mau kehabisan napas. “Wah, benar apa yang kubilang. Si perut buncit itu sudah datang.” Nara meniup poninya yang berantakan dan sedikit basah oleh keringat. Menendang dinding kesal, saat kepala botak Mr. Park terlihat olehnya dari jendela.

Sebenarnya, ini minggu ke-6 sejak dia menginjakkan kaki di Universitas Favorite ini. Entahlah, setiap pelajaran ini, dia selalu telat. Bukan, bukan direncanakan. Itu terjadi secara alamiah. Yeah… terhitung satu bulan dua minggu, dia resmi menjadi mahasiswi kampus ini. Tepatnya, mahasiswi kejuruan manajemen bisnis. Entah dia kelak pandai berbisnis atau tidak. Tetapi asal tahu saja, dia bersuka rela untuk masuk ke sini. Tanpa paksaan, atau pikir panjang. Anggap saja demi meramaikan fakultas ini.

“Pagi, SeonsaengnimJeosongaeyo, saya terlambat…..lagi!”

 Nara sempat melafalkan mantra sebelum benar-benar membuka pintu. Berharap Si Buncit yang suka berteriak itu tidak mengamukinya hari ini. Dibanding mendengar suara cempreng Mr. Park, Nara lebih suka mendengar Ga-In bernyanyi, meski suaranya mengambang di udara.

“Kim Naraaaaaaaaaa!!!”

Mr. Park memelototinya, nyaris mengeluarkan sebelah mata. Setelah sebelumnya, Mr. Park menggebrak meja kuat—yang sukses membuat semua orang terkejut, dan mulai mengumpati Nara—karena lagi-lagi ulahnya membuat heboh kelas.

“SUDAH BERAPA KALI KAU TERLAMBAT? KAU PIKIR INI KAMPUS NENEK MOYANGMU, HAH?” bentak Mr. Park tepat di depan wajah Nara. Sementara gadis itu dengan spontanitas, dan tidak memedulikan omelan Mr. Park, dia menutupi wajahnya dengan buku yang entah bagaimana sudah di tangannya tadi. Bukan soal amukan yang berlebihan, melainkan semburan air liur Mr. Park akan membuat wajah cantik gadis itu basah.

Kemudian Nara menuruni bukunya, dan memberi cengiran khusus kepada Mr. Park. Sementara, pria setengah baya itu tak mau banyak omong, dan lebih suka langsung kepada intinya. Pada hukuman yang pantas untuk gadis yang bertindak seenak kepalanya saja.

Mr. Park berjalan menuju rak di sebelah meja dosen. Dan mulai memilah benda apa yang cocok untuk membuat gadis itu jera.

Nara melotot, dan kontan menganga. Ketiak tangan Mr. Park menggamit sesuatu dari rak. Dan dia bersumpah, dia tidak suka momen ini. Sangat tidak suka.

“Mwoooo? Buku? Tebal? ANDWAE! Tidak-tidak…  jangan matematika. Aku mohon, mengerjakan tugas cuma dua soal saja aku tidak bisa, apa lagi itu buku setebal Tembok Cina. Kumohon, Mr. Park.

Demi Tuhan, Nara mengomat-kamitkan mulutnya, ketika Mr. Park mengambil buku setebal 3 inch. Matanya menyipit ngeri, dan menggeleng ketakutan. Mr. Park menyuruhnya mendekat, lewat isyarat telunjuk sebesar sosis.

“Ada apa, Seonsaengnim?” Nara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tetapi ketika dipikir-pikir, lumayan gatal. Dia baru ingat, kalau dia tidak mencuci rambunya selama seminggu.  Oh Tuhan! Hentikan bayangan yang tidak keramas selama seminggu. Sekarang saatnya hocus fokus pada nasibnya setelah ini.

Igeo-mwoya, Seonsaengnim?”

Nara menelan ludahnya susah payah. Berakting menjadi si idiot yang minta dikasihani, dengan berpura-pura tidak tahu. Padahal jelas-jelas, dia akan tamat sesaat lagi. Andai dia Harry Potter pasti sudah dia hilangkan ingatan dosen berkepala plontos yang menyebalkan itu. Yeah… atau sekarang dia hanya bisa berharap saja.

“Tidak, tidak, kali ini dia memang tidak akan mengampuniku. Tapi, tolong, jangan matematika. Menyesal aku masuk jurusan ini. Tahu begini, tidak akan kuizinkan, Yesung mendaftarkanku di fakultas ini. SIAL!!!! Matematika… kenapa selalu ada di mana-mana? Dia hantu atau setan? Mengerikan seperti setan, menakutkan seperti hantu. ”

“Berpura-pura? Meski kau hilang ingatan sekali pun, Saya tetap akan menyuruhmu mengerjakan soal-soal  yang ada di dalam sana.” Mr. Park menaikkan sudut bibirnya tajam. Seolah memberitahu Nara, dia senang sekali akhirnya bisa menghukum gadis nakal itu. Dan, kali ini dia tidak akan memberi keringanan apa pun, meski Yesung, atau orangtuanya sekali pun memohon.

Seonsaengnim…. tidak bercanda, ‘kan?” Nara mendesah, tampangnya memang dipasang se-iba mungkin, agar Mr. Park mengampuninya sekali lagi. Badannya bergoyang ke kiri dan ke kanan, jemarinya mengait gemetaran satu sama lain.

“Tidak….tidak. Mana mungkin Saya bercanda. Selamat bekerja, waktumu tiga minggu dari sekarang. Kalau kau tidak bisa menyelesaikannya. Ingat? JANGAN HARAP KAU DAPAT NILAI DARIKU SAMPAI MASA SKRIPSIMU TIBA!!”

Ya ampun! Benar-benar tidak bercanda. Wajahnya sudah seperti King Kong yang mengamuk karena ditinggal Anne. Nara masih ingat jelas, tadi malam dia menonton film itu bersama Yesung. Dan, wajah yang ada di hadapannya saat ini, persis seperti King Kong. Demi kebodohan Nobita, si Tua itu sangat mengerikan.

“Ye…Seonsaengnim. Saya akan mengerjakannya,” ucapnya pasrah, dan tersenyum simpul kepada Mr. Park, serta dengan wajah kusut membawa buku sialan itu.

Dia berjalan ke tempat duduknya dengan langkah gontai. Semua orang di sana seakan menertawai keadaan menyedihkan yang dia alami. Kemudian dengan sengaja dia membanting buku itu keras ke meja, kontan membuat Mr. Park terkejut bukan main. Kelihatan sekali, karena pria paruh baya itu memegangi dadanya, lalu menjatuhkan tatapan memperingati ke arah Nara. Gadis itu hanya memamerkan cengiran kuda ala Siwon Super Junior. Akhir-akhir ini, dia belajar meniru cengiran pria seksi itu, yang sumpah mati sangat menggoda imannya. Entah berhasil atau tidak.

“Kenapa kau telat lagi dan kenapa kau tidak datang seminggu ini?” Ga-In berbisik. “Lihat ‘kan, kau dihukum. Dasar bodoh!”

Nara mengangkat bahu tidak peduli. Dia menekuk wajah dalam-dalam. Ketidakberuntungan hari ini, benar-benar membuatnya nyaris frustrasi.

Demi Tuhan, dia menyesal mengikuti princes untuk kuliah di sini. Dan mulai memaki karena kebodohan yang selalu melekat di dirinya, ketika memikirkan penawaran ayahnya untuk kuliah di Donguk University, jurusan seni. Bisa jadi dia tak akan menjumpai yang namanya ‘Matematika’.

*****

“Sial! Kenapa harus pelajaran ini? Apa tidak ada yang lain?” Nara merengek kesal, menggeser sejauh mungkin buku itu dari hadapannya. Dia benar-benar membenci pelajaran ini. Bahkan melihatnya saja dari jarak 100 meter, perutnya sudah mual. Apalagi mengerjakannya. SIAL!

“APA YANG HARUS AKU LAKUKAAAAANNN??” Gadis itu mengantukkan keningnya di meja. Lalu menendang-nendang kursi depan—yang kalau tidak salah lihat, ada seseorang yang duduk di sana. “Dasar perut buncit sialan.”

“Na-ya, jangan seperti itu. Tenanglah, aku akan mengajarimu. Oke?” Ga-In menepuk punggungnya, seolah ingin memberikan semangat. Hadir seperti pahlawan yang datang di siang bolong. Seperti dia tahu saja mengerjakannya.

 “Mwo? Kau bilang apa? Membantuku? Yaa… Han Ga-In. Kita ini sama-sama bodoh, bagaimana bisa orang bodoh mengajari orang bodoh? Kalau sampai itu terjadi, maka aku pastikan kita akan terbaring lemah di rumah sakit jiwa. Kau mau?” Nara mendelik serta mendecak kesal. Membayangkan situasi paling buruk itu terjadi, maka tamatlah riwayatnya. Mereka berdua bodoh, satu kelas tahu itu. Yang dimiliki Nara sebagai kemampuannya adalah bahasa Inggrisnya yang lancar. Itu saja.

Sementara Ga-In yang menyadari hal itu, memberi senyum terbaiknya—supaya tak mendengar amukan Nara yang lebih parah dari sebelumnya. “Aku lapar, Na-ya. Ayo, kita ke kantin?” Alih-alih merasa kasihan, Ga-In mencoba membuat gadis itu melupakan sebentar nasib malangnya hari ini dengan mengajak gadis pemberontak itu makan siang. Kebetulan kelas sudah berakhir, dan perutnya selama berjam-jam terasa seperti mengamuk, karena kelaparan. Lagipula, Nara akan sangat senang diajak makan kalau seperti ini. Melampiaskan semuanya dengan… makan sebanyak mulutnya mampu mengunyah.

******

Canteen of Business Management Faculty

 

Ahjumma, aku mau ramen dan jus jeruk. Buatkan yang ekstra pedas, aku ingin lidahku terbakar hari ini. Oh, dan jangan lupa jus jeruknya!” Nara mengembuskan napas kesal setelah memekik bibi penjaga kantin. Tenggorokannya benar-benar seperti padang pasir yang tak terjamah air sedikit pun, akibat mengoceh dan meneriaki semua orang hari ini. “Aku ingin meninju wajah seseorang,” keluhnya jengkel bukan main. Harinya begitu sial.

“Kyaaaaaaa….. tampan sekali! Whoaaaa….!!”

Dia spontan memejamkan mata ketika mendengar kakak kelasnya tengah berteriak di luar kantin. Meski risih, Nara mencoba tak mengacuhkannya. Dia lebih memilih menenggak habis jus jeruk—yang baru saja diantar Kwon ahjumma, dengan rakus. Menjilati bibirnya, yang tersisa sari jeruk sampai kandas.

Tetapi sialnya, semakin diabaikan semakin terdengar suara cempreng sunbaenimnya di sana. Dan, sepertinya teriakan itu sudah sampai di kantin. Karena, seisi kantin menjadi lebih heboh dari sebelumnya. Memekik sana sini, mendorong ke sana kemari, melompat-lompat, dan bahkan sampai ada yang berdiri di atas kursi demi menikmati pemandangan yang sangat diidolakan satu universitas.

“Pria-pria berengsek. Kalian merusak selera makanku,” dengus Nara, menyabarkan dirinya untuk tidak berhambur ke depan sumber teriakan itu, dan menghajar salah satu dari mereka. Ya Tuhan, dosa apa dia mendapat sebegitu banyak cobaan hari ini?

Oh… demi Neptunus, dia ingin membungkam mulut mereka dengan kaus kakinya yang cantik jelita itu. Biar mereka tahu rasanya, seperti apa kaus kaki yang tidak diganti selama empat hari, masuk ke dalam mulut lebar mereka.

Oppa! Kalian tampan sekali!”

Oppa, katakan cinta padaku.”

Oppa… ayo kita kencan.”

Teriakan gadis-gadis remaja itu nyaris menulikan telinganya. Lihat, mereka bahkan mengikuti pria-pria yang mereka katakan tampan itu, seakan menjadi pengawal. Memuakkan… sebegitu terkenalnya mereka rupanya. Nara masih tidak percaya, kenapa salah satu dari pria-pria sok tampan itu harus menjadi kakak kandungnya. Sekali lagi, dia amat menyesal telah menguntit pria berkepala besar itu sampai ke sini.

Ternyata benar yang dikatakan teman-temannya dulu sewaktu di SMA… para princes gadungan itu masih eksis sampai saat ini. Bahkan mereka sudah dijuluki princes dari mulai sekolah dasar. Sungguh diluar dugaan. Yang patut diherankan, mereka berbeda jurusan dengannya. Dan ini kantin khusus mahasiswa fakultas manajemen bisnis. Nah lihat pria-pria tebar pesona itu, mereka salah masuk kantin. Ini jelas bukan area mereka. Dan yeah, satu hal yang perlu diketahui. Meskipun bukan wilayah mereka, namun tempat ini selalu jadi tempat makan favorite mereka di Kyung Hee. Dan, mereka berkuasa penuh di sini.

Dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun, dan karena dia sangat benci kebisingan. Nara membanting meja dengan keras. Dia tidak peduli tatapan sengit semua orang yang langsung diam tertuju padanya. Nara malah melempar picingan tajam kepada yang berani menatapnya seperti itu.

Kemudian dengan lantang, dan angkuh. Gaya preman jalanan di daerah Songpa, Nara berjalan menghampiri meja pria-pria yang selalu dieluh-eluhkan kaum hawa, pengecualian dirinya sendiri.

“YAK! Kalian ini bisa tidak, mengurangi pesona kalian satu hari saja? Aku bosan mendengar gadis-gadis labil seperti mereka memekik sampai urat leher mereka mau copot. Tiada hari tanpa berteriak, menyebut nama kalian, seolah kalian Dewa Acheron yang diidam-idamkan si jalang Arthemis. Cih! Membuatku ingin muntah, kalian tahu?” Nara menghirup udara sebanyak mungkin, karena di sekitarnya terasa pengap dan sesak. Lalu, dengan sinis menatap satu per satu wajah-wajah yang hobi menebar pesona ke mana-mana.

“Kau cemburu?” Sambil tertawa, Eunhyuk mengerlingkan mata nakalnya—dengan niat mengejek Nara. “Itu risiko memiliki wajah seindah Acheron, Nona,” gelaknya, tak ambil pusing terhadap pelototan tajam Nara yang menusuk tepat ke matanya.

 “Na-ya, kau kenapa? Lapar? Duduklah, Oppa yang paling tampan ini akan mentraktirmu. Eottae?” Donghae mengeluarkan suara paling menggoda yang dimiliki pria setengah ikan itu, untuk menggoda Nara yang sama sekali tidak terpengaruh. “Kau menakuti mereka semua.” Donghae menunjuk para gadis yang mengamati adu mulut mereka dengan Nara. “Duduk, dan mari kita makan, sayang,” lanjutnya sambil mengedipkan mata dengan ekspresi anak umur lima tahun.

“Kau tidak lelah, ya, mengomeli kami karena mereka?” Ryeowook menimpali, sambil menggelengkan kepala—merasa kasihan. Tangannya memainkan sedotan, dan kemudian tersenyum sampai memperlihatkan deretan giginya.

“Itu sudah takdir kami, Na-ya, untuk menjadi princes di kampus ini.” Yesung angkat bicara dengan raut datar, dan suara santai. Memberikan senyuman menggodanya untuk merayu Nara. “Duduk, bebek. Dari pada kau capek memaki ketampanan kami, lebih baik kau isi perutmu dengan makanan. Anggap saja menambah energimu, supaya kau bisa memaki lagi besok.”

“Kemarilah,” Sungmin menarik lengan Nara sedikit memaksa, dan mendudukan gadis itu di sampingnya. Sementara Nara mendengus serta memutar bola matanya jengah.

“Pintar sekali mereka merayu. Dan, entah kenapa setiap seperti ini… aku tidak bisa melawan lagi. Mulut mereka memang racun berbahaya. Ya ampun, aku ingin mereka divisum sekarang juga, untuk mengetahui berapa banyak lagi sisa hidup mereka di dunia ini.”

Nara mendecakkan lidah sewaktu berargumen sendiri. Dan, mencoba memasrahkan keadaan. Karena dia memang terlalu lelah untuk berdebat lagi.

Jebal! Bisakah kalian tidak buat keributan di kampus ini?” Nara memelas dengan menyatukan kedua telapak tangan.

Dia tahu persis, seluruh mahasiswa di kampus ini, dari mulai fakultas kedokteran hingga fakultas bahasa. Bak pangeran-pangeran dari kerajaan Inggris, mereka dipuja-puja. Seisi universitas ini sudah sangat teramat mengenal mereka. Sialnya, semua orang juga selalu mengaitkan dirinya pada keenam pria itu. Menjijikkan!

“Tidak bisa!” jawab mereka serempak, dan tertawa terbahak-bahak setelahnya. Membuat Nara mengerang frustrasi, sembari mengacak rambutnya gusar. Lalu menendang kaki Yesung dari bawah meja kuat-kuat.

“Yesung-a, apa adikmu ini, seperti ini kalau di rumah?” Leeteuk pura-pura bertanya, seperti orang asing yang baru mengenal perangai Nara. Padahal sudah bertahun-tahun lamanya Leeteuk menjadi bagian dari hidup gadis itu. “Kau menggemaskan kalau sedang marah, bebek,” lanjut Leeteuk, mencubit pipi Nara gemas. Tak memedulikan ringis kesakitan gadis tersebut.

“Setiap hari dia buat keributan di rumah, jadi aku sudah terbiasa dengan hal sekecil ini.” Yesung berdeham, dan sedikit meringis karena sakit di tungkai kakinya akibat tendangan kasar gadis itu. “Kalau kau seperti ini terus, tidak akan ada pria yang berani mengajakmu berkencan,” cibir Yesung memajukan bibirnya.

“Kau pikir siapa yang mau berkencan? Aku tidak butuh mereka,” protes Nara kesal setengah mati, langsung melemparkan tisu ke wajah Yesung, yang ditangkap sempurna oleh Donghae. Lalu mereka terkekeh bersama.

“Sudah-sudah, jangan marah-marah lagi. Kau akan cepat tua kalau begini kelakuanmu setiap hari.” Sungmin membekap mulut Nara yang akan mengoceh lagi. “Diam, dan makanlah.”

Nara memberengut kesel ketika Sungmin melepaskan tangannya. Kemudian matanya membelalak ketika teringat akan sesuatu yang tertinggal di mejanya tadi.

“Demi Tuhan, aku melupakan Ga-In.” Nara menepuk dahi, sembari berdiri dan mencari sosok perempuan dengan tinggi 163 sentimeter, yang rambutnya dikuncir kuda di kerumunan gadis-gadis. “Han Ga-In!” pekiknya ketika mendapati gadis cantik itu. Dia melambaikan tangan, agar Ga-In datang bergabung. Spontasn saja Ga-In berlari terburu-buru ke meja itu, dan dengan wajah sumringah dia tidak melepaskan senyum manisnya.

AnnyeongOppadeul!” sapa gadis itu malu-malu. “Kau meninggalkan ramen super pedasmu di meja kita.” Ga-In menyerahkan mangkuk ramen yang masih penuh kepada Nara. Dan, gadis itu menyuruhnya meletakkan mangkuk tersebut di atas meja.

Demi kepintaran Conan, Nara benar-benar ingin muntah melihat Ga-In tersenyum malu-malu seperti itu. Sejujurnya Nara memaklumi tingkah sok keimutan gadis itu, karena ada seseorang yang sangat Ga-In kagumi di sini. Seseorang yang dari jaman SMA sudah membuat Ga-In tergila-gila. Ah… sudah-sudah, ini terlalu berlebihan.

Annyeong, Ga-In! Kemarilah, duduk di dekatku saja!” pinta Ryeowook. Kontan Ga-In melotot senang, dan mendadak pipinya mengeluarkan semburat merah jambu. Ya, pria itu yang nyaris membuatnya seperti orang gila karena memikirkan Ryeowook setiap malam. Jadi, menelik perlakuan Ryeowook, sepertinya bukan hanya dia yang diam-diam menggilai pria itu. Tetapi, kemungkinan, pria tersebut juga menyukainya. Ah… yang benar saja!

“Ah…go-gomawo, Wookie Oppa,” ucap Ga-In terbata, langsung berhambur di samping Ryewook. Senyum lima jari masih terpampang di wajah gadis itu.

Nara yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, hanya menahan rasa mau muntah yang sudah sampai di tenggorokannya. Dan, memberi delikan sengit pada Ga-In, sementara respon gadis berambut pirang itu hanya tersenyum selebar mungkin.

Ketika mereka sibuk memerhatikan Ga-In dan Ryeowook. Leeteuk sedikit gelisah di tempat duduknya. Melirik ke sana kemari, dan mendongak ke arah pintu masuk.

“Oh, di mana magnae kita?” tanya Leeteuk, sambil terus mengamati sekitarnya seperti mencari-cari seseorang. “Di mana dia?”

Nara mengernyit melihat gerak-gerik Leeteuk yang tampak aneh. Dan, sepertinya Leeteuk juga tahu kalau anggota paling kecil mereka ada di sampingnya. “Yak! Ketua, secepat itukah kau menjadi rabun? Kau tak lihat magnae kalian ada di sampingmu?” Nara menggelengkan kepalanya, merasa kasihan karena rabun dekat yang menimpa Leeteuk di usia yang sangat muda. “Kim Ryeowook ada di sampingmu, Leady,” sambungnya dengan suara manis, dan menyebutkan nama panggilan kesayangannya untuk Leeteuk.

“Bukan. Bukan dia orangnya, Na-ya.”

“Eh?” Kerutan di dahi Nara semakin menjadi. “Kalau bukan dia, siapa lagi?”

Hyung, kau tidak memberitahunya tentang magnae kita?” Eunhyuk bertanya pada Yesung. Langsung tertawa ketika mendengar jawaban Yesung yang begitu tidak manusiawi bagi Nara.

“Tidak, aku hanya memberitahukan ddangkoma saja.”

*****

“Kyaaa!!! Oppaaaa!! Oppaaaa!! Kenapa Tuhan menciptakan makhluk sebegitu tampan sepertimu?”

Oppa, kau bahkan melebihi kesempurnaan Dewa Yunani.”

“Boleh aku pingsan di pelukanmu, Oppa.”

Teriakan menggelegar mengiringi perjalanan sosok tampan itu menuju kantin. Layaknya selebriti papan atas, dia dikelilingi gadis-gadis yang tidak henti menyebut namanya. Namun pria itu tak peduli, dia terus melangkahkan kaki masuk ke dalam kantin dengan wajah dingin tanpa ekspresi.

Dia langsung menuju meja princes saat tiba di kantin. Mengabaikan tatapan memuja dari orang-orang di sekelilingnya. Sejujurnya dia tidak suka situasi seperti ini. Membuatnya ingin muntah, dan sesak napas.

“Maaf, aku telat!” Pria itu menatap sebentar ke arah Leeteuk—yang tersenyum cerah padanya. “Kalian menunggu lama?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan. Sontak terdiam saat matanya bertemu pandang dengan Nara—yang tengah menatapnya seakan ingin memangsanya. Cukup lama, hingga menimbulkan desiran aneh di beberapa bagian tubuhnya. Dan itu asing baginya untuk saat ini.

Ada rasa penasaran di mata gadis itu, tak percaya, aneh, dan segala macamnya. Dengan tampang tak peduli, pria bertubuh jangkung itu memalingkan pandangannya dengan dingin.

“Kyu, dia gadis keras kepala yang akan kami kenalkan padamu.” Sungmin menatap bergantian Kyuhyun dan Nara, sambil menepuk-nepuk kepala gadis itu. “Kedipkan matamu, sayang,” bisik Sungmin mesra, menyadari tingkah ganjil Nara. Dia melihat ada yang berbeda di raut wajah gadis itu, dan dia cukup senang, menyadari Nara sepertinya menaruh perhatian pada Kyuhyun. Biasanya, gadis itu bahkan tak senang melihat wajah-wajah pria yang selalu mereka kenalkan pada gadis itu.

Tapi kali ini berbeda, pikir Sungmin tersenyum lebar.

“Cho Kyuhyun.”

Suara bas nan seksi keluar dari bibir pria berkulit pucat itu, lantas mengulurkan tangannya. Namun, Nara masih bergeming dengan gulatan di pikirannya, masih menatap lekat sang pemilik mata hazel itu. Entah karena ketampanannya yang terlalu berlebihan, atau karena dia masih belum bisa mencerna dengan apa yang dilihatnya. Wajah pria itu benar-benar membuatnya tidak berkutik.

Penuh bahaya, putus Nara.

“YAK! Bebek, sebegitu tampankah wajah di hapadanmu itu, eo?” Donghae melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Nara. Mendecak kesal. “Oh, begitu ternyata! Kau sudah berpaling dariku, ya?”

Nara mengedip cepat, tersadar akan kebodohannya yang jelas-jelas mengamati wajah sempurna pria itu. “Kim Nara. Kau bisa memanggilku Nara.” Gadis itu menyambut uluran tangan Kyuhyun. Hanya sekilas, karena Kyuhyun langsung menarik tangannya dengan cepat. Satu yang dirasakan Nara beberapa detik lalu adalah… dia merasakan sensasi aneh menjalar ke seluruh aliran darahnya. Seperti air panas yang mengalir punggungnya, hingga membuat bulu kuduknya meremang.

Alih-alih menyadari ketidakberesan tubuhnya. Nara mulai mengoceh lagi. “Bagaimana bisa kalian mengenalnya, dan bagaimana bisa dia bergabung dengan kalian?” Nara penasaran, sampai-sampai mengerutkan keningnya. Setahunya tidak ada yang keluar ataupun masuk dari princes, dan sejak dulu Nara tahu mereka cuma berenam. Perasaan ganjil dicampur heran. Dan satu hal, wajah Kyuhyun sangatlah tidak asing baginya. Nama pria itu, seperti pernah masuk ke salah satu mimpinya. Entahlah! Mungkin hanya imajinasinya yang berlebihan.

“Kami hanya teman lama. Dan wajahnya yang tampan itu, pasti masuk dalam kategori princes, bukan? Bagaimana menurutmu?” tanya Donghae dengan penuh keyakinan. Nara yang mendengar ocehannya hanya mengendikkan bahu acuh tak acuh.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Nara memberanikan menatap wajah Kyuhyun, setelah mengalihkannya ke arah Eunhyuk beberap menit lalu. Karena tidak sanggup menatap Kyuhyun berlama-lama. Pria itu terlalu bersinar, dan penuh bahaya.

“Mungkin,” jawab Kyuhyun datar, sedatar ekspresinya.

*****

“APPOOOO!!!”

Teriak Nara ketika pantatnya tepat membentur ke lantai, karena terdorong oleh tubuh seseorang. Dia meringis kesakitan, dan hidungnya berkerut.

“YAK! Kau punya mata tidak? Lihat, kau membuat bokongku seakan remuk. Aish!” Nara mengerang, dan mengusap bokongnya yang terasa kempes seketika.

“Kau rupanya?” Kyuhyun mengamati wajah Nara, dan tanpa rasa bersalah malah mengabaikan teriakan sakit gadis itu. “Kalau jalan perhatikan depan, bukan belakang. Matamu dipergunakan dengan baik.” Kyuhyun menyedekapkan tangan angkuh.

“YAK! Kau yang mendorongku, kenapa kau yang menyalahkan mataku?” Nara menyanggupkan dirinya untuk berdiri. Sambil terus mendesah kesakitan. Menyebut kata ibu beberapa kali. “Tidak punya perasaan.”

Kyuhyun mengedipkan matanya dalam tempo lambat, memerhatikan wajah memberengut Nara yang tampak menggemaskan. “Kau berlari seperti dikejar setan. Kau buru-buru?”

 Nara memanyunkan mulutnya. “Bukan urusanmu. Cepat minta maaf sekarang, kau yang salah,” kesal Nara, sambil melirik Kyuhyun sinis.

Kyuhyun mendesah pelan, dan menggelengkan kepalanya malas. Kemudian tanpa sepatah kata pun dia membalikkan badan, dan berjalan menjauhi Nara. Spontan gadis itu melongo hebat. Merasa telah sia-sia mengatakan kalimat tadi kepada pria itu, toh ucapannya dianggap angin lalu. Sialan, beraninya pria baru itu. Dia tidak tahu siapa Nara, eh?

“YAK! BERHENTI!!!” teriak Nara kalap, dengan emosi yang membuncah. Namun Kyuhyun tetap melenggang santai. Malah Nara melihat jelas, pria itu memasang earphone, untuk mencegah teriakannya merusak telinga pria itu. “CHO KYUHYUN, KUBILANG MINTA MAAF!”

Pria itu tetap berjalan, dan semakin menjauh. Tanpa berbalik, tanpa mengatakan satu kata pun.

“DEMI TUHAN! KAU PRIA TIDAK PUNYA PERASAAN,” pekik Nara untuk terakhir kalinya, sebelum menyerah, dan memilih berlari lagi sesuai tujuan awalnya. Game Center. Taemin baru mengirimnya pesan singkat, kalau pesanannya sudah ada. Sambil berlari, dia merutuki prai yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. “Setan mana yang diadopsi pria-pria berengsek itu. Hingga membuatku ingin menghantanmkan tinju ke wajahnya. Argh….” 

*****

“Oh! Terima kasih, Tuhan, akhirnya aku tiba di sini dengan keadaan utuh dan masih sehat.”

Dengan napas yang terengah-engah, Nara tiba di Game Center. Sebelum masuk, dia menstabilkan deru napasnya. Kemudian dengan langkah cepat dia memasuki gedung itu. Katakanlah, ini tempat favoritenya untuk membuang uang. Mata cantiknya langsung tertuju pada kaset yang terpajang cantik di depan rak paling depan. Dengan gerakan sepuluh langkah lebih cepat, dia mendekati rak itu dengan mata berbinar-binar sempurna.

“Whoa! Berapa tahun aku menunggumu? Satu, dua, sepuluh…. sudah tak terhitung. Akhirnya kau datang, honey!” Nara mendesah kecil mendapati benda yang ditunggunya berada tepat di depan matanya. Dia menautkan kedua tangannya, dan meletakannya ke pipi kirinya. “Yeah… kau milikku, baby!” ucapnya mesra.

Baru saja dia mau mangambilnya dari rak, tangan nan panjang  sudah lebih dahulu memegang kaset itu. Perlahan, Nara melihat ke arah lengan itu berasal.

“KAU LAGI?” pekik Nara tanpa sadar, jari telunjuknya sudah berada tepat di depan wajah Kyuhyun. “YAK! Apa kau buntutku? Kenapa kau selalu mengikuti ku, eo?” kesal Nara semakin berteriak, membuat semua pengunjung melihatnya—dengan tatapan seakan menyuruh mengecilkan suaranya. Nara hanya menundukkan kepalanya sedikit, dan kembali melihat pria yang mengambil kaset gamenya.

“Ini milikku, aku yang pertama kali melihatnya.” Nara menarik benda itu dari tangan Kyuhyun.

“Belum. Ini masih menjadi milik Game Center.” Kyuhyun menarik kembali benda itu, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Nara. Dan memasang raut prihatin.

“Tapi sekarang aku akan membelinya. Cepat, kembalikan!” pinta Nara dengan dengusan jengkel. “Kau jangan membuat masalah denganku, anak baru.”

Kyuhyun menatap dingin wajah Nara. Kata ‘anak baru’ sangat mengganggu pendengarannya. “Kau bilang apa? Anak baru?” Kyuhyun mngembuskan napas enggan. Mulai berpikir jernih, kalau dia mendebat gadis itu, urusannya tidak akan selesai hari ini. Lebih baik dia melenggangkan kakinya, ketimbang ikut emosi karena bocah tengik satu itu.

“YAK! Kembalikan!” Nara menghalangi jalan Kyuhyun dengan merentangkan kedua tangannya.

“Minggir!” Kyuhyun menurunkan tangan kanan Nara. “Jangan halangai jalanku. Kau akan menyesal, bocah.”

“Tidak. Sebelum kau mengembalikannya,” tukas Nara, kini wajahnya sudah merah menyala. Emosinya sudah di puncak kepalnya yang mungkin mengeluarkan segumpal asap. Sepertinya akan meledak sebentar lagi.

Kyuhyun melipat tangannya santai, lama-lama dia jengah juga dengan si bocah itu. “Kau mau?” tanya Kyuhyun, sembari menelengkan kepalanya—mengamati binaran cantik di mata gadis itu. Kontan disambut histeris oleh Nara, dengan menjerit sedikit.

Kyuhyun tersenyum samar, nyaris tidak kelihatan kecuali dengan kaca pembesar. Pria itu memajukan wajahnya. Dan, dengan cepat mengecup bibir mungil Nara yang sedang tersenyum. Lalu, seperti kilat, Kyuhyun menjauh dengan santai, sementara Nara membeku di tempat dengan tampang tolol.

“YAK! A-apa yang kau lakukan? YAK! Berhenti kau!”

Hampir tiga menit Nara mematung karena ulah Kyuhyun, yang tentu saja membuat darah Nara berdesir, jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat. Nara berteriak sekeras mungkin, tidak peduli lagi tatapan mengancam para pengunjung dan juga penjaga kasir yang tampak kesal. Dengan sadar setengah jiwa dan raga, Nara berlari ke luar, mencari-cari tubuh jangkung yang telah membuatnya membeku layaknya es batu. Masalahnya bukan karena kasetnya itu saja yang direbut, tapi kesucian bibirnya juga telah direbut Kyuhyun. SIALAN!

“CHO KYUHYUN! Kau akan mati di tanganku. Kau mengambilnya…. Aish! BABO NAMJA!”

Nara semakin frustrasi dan terus memegangi kedua belah bibirnya. Menahan kesal, dengan menendang-nendang ban mobil yang terparkir di sana.

“DEMI TUHAN, CHO KYUHYUN! Itu yang pertama. YAK!!! BERENGSEK!”

*****

“Yaa! Apa yang dilakukannya? Dia telah mencurinya dariku, mengambil kasetku seenak perutnya.”

Nara menggerutu sepenjang jalan, menghentak-hentakan kaki kasar, sesekali merengek nyaris menangis. Setengah mati jengkel, dia mengacak rambutnya.

Lima belas menit sudah dia menunggu bus, namun belum juga datang. Sesekali Nara menatap  ke jalan raya, dan tepat saat itu dia melihat mobil putih tengah melaju santai. Dengan spontan tangannya melambai, karena dia hapal betul pemilik mobil tersebut.

Ketika mobil itu menepi, dia langsung membuka pintu dan menutup dengan membantingnya kuat.

“YAK! Kenapa kau memperlakukannya seperti itu, eh?” Yesung menggeram, hampir melayangkan pukulan ke kepalanya. Dengan sigap Nara melidungi kepalanya. “Ada apa denganmu? Pipimu, kenapa dengan pipimu? Seperti tomat busuk, kau tahu?”

“Jangan bicara terlalu banyak. Aku tidak suka,” ketus Nara, mengabaikan tatapan membunuh Yesung. “Berapa jam lagi hari esok tiba?”

Pertanyaan Nara spontan membuat Yesung mengernyitkan mukanya. Terlalu aneh menurutnya pertanyaan bocah tengik satu itu. Yesung menengok ke samping kanannya, mencermati baik-baik raut adiknya yang sangat tidak enak dipandang saat ini.  “Kau menunggu hari esok?”

Nara tak menjawab sewaktu ditanya, dia hanya menatap gelisah jalanan di samping kanannya. Nyaris mengamuk dan berteriak, ketika mengingat Kyuhyun. Pria itu berhasil memporak-porandakan pikirannya hanya dalam hitungan jam.

“Aku ingin menghajar seseorang,” cetusnya dengan wajah kusut. “Sial! Sial! Sial! Ada apa dengan duniaku hari ini?” Nara mengusap wajahnya suntuk. Sementara Yesung mengamatinya dengan tatapan miris. “Aku ingin satu menit ke depan adalah besok.”

Wae?” Yesung menanggapi dengan senyum-senyum tidak jelas. Lucu melihat raut murka di sebelahnya yang tampak menggemaskan. “Kau punya masalah dengan seseorang.”

“Ya. Aku punya masalah dengan Cho Kyuhyun.”

To Be Continued

 

68 thoughts on “Be My Teacher, Please! [Chapter 1]

  1. Anyeong ,,aku reader bru ..salam kenal
    ga papa kn aku panggl eonni ..kyk nya ga enak aja klo manggl author dng kta ‘saeng’
    Ffnya lanjutin ya …HwaitingFfnya lanjutin ya …HwaitingFfnya lanjutin ya …HwaitingFfnya lanjutin ya …Hwaiting !!!

    • annyeong :)

      q juga gak suka dipanggil author atau admin…
      boleh panggil aku ‘nara atau tyara’. kagak enak jugak kan, kalau chingu lebih tua dari saya…
      panggil nama ajja…

      gomawo for coming…
      nara pindahan dari Fanfiction.net ataupun FB…
      Hwaiting :)

  2. aku mau koment yach…
    gpp dunk eonn…
    walaupun udah baca berulang kali di FB

    okay, lanjut eonn

    cemunguuuuuuuuuutttttttt :)

  3. whoaaa!!!
    keren eonn ff nyaaa….
    bahasanya nyantaiii
    hihihihiihi

    lanjut ya eonn ff nya
    aku tunggu loooooooooooooooohhhhhhhhh
    kocak tuh nara sama bang kyu :D
    ngakak gila gua bacanya eonn…

    hahahahhahah

  4. whoaaaa
    seru ni ceritanyaaa… kasian nara dikasih tugas sebanyak itu…
    sabar ya nara….
    semua ada hikmahnya…

    ya ampun bang kyu dimana-mana selalu buat ulah…
    nara enak banget dikelilingi namja-namja tampan
    #ngiri

  5. bruakakakkakkaa

    kocak beuddhh

    kasian nara, udah kenak banjer bandang, eh dapat tugas 1 buku tebal…

    itu lagi para prince, membuatku ikut meleleh membayankan mereka…

    kyuhyun, oooohh evil mu selalu aja membuat masalah..
    #digampar

  6. yaaahh?? apa-apan ini FF, kenapa perut ku sampe sakit bacanyaa???

    udah malam jugak nih, hampir digeplak eomma…

    seru nih FF, lanjut lah, mau abisin mpe part 6…

    ehhehehehehehehehe

  7. annyeong eonn, mau koment nih…
    nara eonn : silahkan
    #plak
    #abaikan

    FF nya sumpah buat perutku sakit, barusan tadi nonton(?) “kyuhyun n ramyeon”. lah, baca nih FF makin gak ada suara jadinya…

    daebak eonn, nara sabar nde….??
    kyuhyun oppa neomu nappeun, first kissnya nara dicopet.. :(

  8. unni, sebelumnya mau koment tentang widgetmu…
    aku suka lagu only human,, itu lagu japang kan????

    itu soundtarck atau apa un??

  9. after read this fanfiction
    beneran banyak typo unn.. kkkkk
    tapi, singkirkan dulu typo2 itu…

    sukaaaaaaaaaaaaaaaaa bngeeeeeetttt ff nya.. beneran deh…
    kocak, seru, oon banget tuh nara
    #digamparueunni
    ampun eonn…
    tapi beneran keren…
    next>>

  10. nae yakin nih FF pertama unni kan???
    soalnya banyak typo.., tapi di FF lainnya rapi, typo mah lewat…
    goodjob unn, cepat banget perkembangannya… 100 jempol buatmu…
    review nae bwt nif FF, kocak, seru, seger gitu mata baca yg tampan2 itu…
    dan kyu kurang ajar lu, nyium nara gak ngemeng2
    #semprol

  11. Nih ff udah lama eonn baca…
    Baru sempet komen…

    somplak beudh…
    Sikyu kurang ajar bgt nyurik bibir sinara #plak

    keren… Ceritanya mnarik… Gak nyesel baca mpe chap 6…
    Nih ff disaranin baca sma temen… Ktanya bgus… Ada kta2asingnya…
    Ternyata memang Daebak :)

  12. Annyeong…. reader baru ni eonn…

    Naneun Cha Hyo Rim imnida…
    bangapseumnida…

    aku suka ff nya, kocak… lucu… dan keren abis lah…
    apalagi ada namja-namja ku… #tengoksiryeowookoppa
    :D
    segitu dulu komennya… nae mau lanjut chap 2 :D

  13. aduh,.. baru kesempetan baca kek gini…

    keren eonn…

    feelnya dapet, berasa lihat langsung… sinara lucu… kocak dan itu para princes keren abis #meleleh

  14. Hahahahhaa…. aduh kyuppa kau emang bisa buat orang terdiam kek gitu…
    huwa kocak seru romantis lah pkoknya… ff yg memang bener2 banyak princes nya..
    next baca >>> :D

  15. annyeong…. salam.kenal reader baru
    nemu blog ini dr salah satu wp yg km singgahin n komen promosi blog wp ini…..
    ff kyuhyun emang slalu.q cari….
    kyuhyun gimana sih masa main cium gt aja mana curi ciuman pertama y Nara lg n nara dongsaeng segenk y dia….
    ya ampun bakal diapain ya kyuhyun bsk ma Nara???

  16. Kalo baca ff disini kayaknya kudu siap2 ketipu. Hari ini udah 3x. Eh tapi kalo bersambung gak ada tipu2 kan chingu?? Tipu nya bikin ngakak siiih jadi seneng2 aja baca nya. Happy writting!!!

  17. annyeong chingu..
    perkenalkan saya reader baru..
    ketemu blog ini waktu bnyak ff di blog khazakikyu…

    segitu aja y.. mau lanjut lagi…
    ffnya keren, suka sama gaya bahasanya..

  18. tanpa di sengaja aku nemu blog ini yg tertarik baca ff yang ini sumpah kocak scene Kyuhyun nara ini genre nya romance kan? iya aja deh hihihi

    • Annyeong *lambailambai*

      senengnya ada reader baru *peluk*

      Bisa dibilang cuma bagian awal aja mereka begitu..
      eh… KAGAK bisa dibilang romantis juga… NYOLOT iya…

      salam kenal, dearest! :)

  19. Wkwkwkwkkw.. Ini ff agak menggila sedikit ternyata wkwkwk xD #aku tau ini blog dari hyunhyuncircle eonnie wkwkwk xD kayanya ff ff nya bagus bagus aku suka.. Wkwkwk xD terutama ulzzangnya meskipun aku suka ulzzang park channie aku lebih ngesreg sama kim shinyeong gitu ;;)

    • Halo, Dearest! *lambailambaitangan*
      SELAMAT DATANG Di FFiction Latte, ndeee…

      soal Ulzzang… Shin-Yeong Eonni emang Favoritku kebetulan, Dear…

      Suka ngerasa tingkahnya saat pose sangat cocok sama karakter Nara,,, *muntahanedijamban*

      Nikmati sajian gak genah kami yooooh :)

  20. Annyeong, aku reader baru di FF ini kkk~ kemarin aku baca chap 10 nya, karena ceritanya seruuu banget, dan rasanya gak afdol kalo gak baca dari awal :3 jadi aku ubek-ubek(?) wp nya buat nyari kelengkapan ni FF :v

  21. Huahaha kyu tanpa dosa malah kirim pesan ke nara wkwk~
    Part 1 aja dah kaik gini gmana next part’a??

    Nextttttt.. ;)

  22. annyeong aku reader baru, ijin baca ff nya.
    cerita nya kocak, nara sedikit aneh. udah kuliah tapi tetep pakai kaos kaki warna-warni.

♥♥♥ COMMENT HERE, AMICO ♥♥♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s